October 11, 2017085322922057starcoachindonesia@gmail.com

Pelatih yang berhasil – Star Coach Indonesia

In Artikel

Belum lama saya diminta oleh kakak saya untuk mengajari anaknya bermain yoyo, sebuah permainan anak-anak yang kerap membuat orang dewasa juga keranjingan. Sebagai generasi X yang dulunya aktif main kelereng, layangan dan yoyo, maklum karena belum ada gadget, saya langsung menyanggupi permintaan kakak saya. Walaupun sudah lama sudah lama saya tidak pernah pakai main yoyo, tetapi karena dulunya sudah terbiasa dan sering main, jadi saya masih ingat sedikit-sedikit. Sama seperti bermain sepeda. Walaupun sudah lama tidak naik sepeda, tetapi sekali bisa, kita akan bisa bersepeda sampai kapanpun, iya kan? Itu muscle memory namanya.

20160424_162304_resized

Coach Barlian with Avel

Permainan ini permainan yang membutuhkan banyak gerak, khususnya gerak tangan. Sedikit sombonglah saya saat jadi guru dengan menunjukan cara yang muridnya belum bisa tiru. Namun apakah itu membantu murid alias ponakan saya? Ternyata TIDAK! Guru atau pelatih yang menyombong hanya menunjukkan bahwa si guru/pelatih hanya bisa membuat murid merasa bodoh dan berujung pada murid jadi malas belajar. Jadi setelah saya pikir, sepertinya metode saya salah dalam mengajar. Ponakan saya, yang sering dipanggil Avel, jadi murung karena keesokan harinya dia perlu menunjukan keterampilan bermain yoyo di depan teman-teman sekelasnya dan saya masih belum berhasil melatih Avel menjadi mahir.

Saya mulai berpikir harus mulai (lagi) dari mana. Ya, mulai dari awal lah, namanya juga mengajar pemula! Berikut langkah-langkah pembelajarannya:
1. Belajar cara pegang yoyo
2. Belajar menggulung yoyo
3. Belajar menaikturunkan yoyo
4. Belajar variasi gerakan yoyo
5. Belajar memutar yoyo

Karena pelajaran di mulai dari awal, maka dia sanggup dan senang sekali untuk belajar. Rasa senang akan pelajaran sangat penting untuk seorang murid belajar. Ini hal yang saya pelajari sebagai seorang guru/pelatih. Singkat kata, sejak saat itu Avel berlatih yoyo setiap hari. Selang beberapa minggu kemudian, kakak saya meminta saya khusus untuk datang melihat perkembangan anaknya bermain yoyo. Sebenarnya sih, Avel yang meminta ibunya bertanya kapan pamannya datang lagi. Avel bertanya kira-kira seperti ini, “Uncle B (B dari nama depan saya, Barlian), kapan ke rumah Avel? ”Memang Avel tidak bilang langsung dia mau menunjukkan permainan yoyonya kepada saya tapi saya tahu dari kakak saya.

Datanglah saya ke rumah kakak saya minggu lalu. Saya kagum bukan main melihat perkembangan permainan yoyo Avel. Dia melakukan buaaanyak teknik yang saya sendiri belum bisa melakukannya. Sebagai gurunya, saya bangga sekali! Saya merasa sangat berhasil melatih Avel. Dia rajin untuk belajar dan berusaha untuk mencapai goal yang dia tetapkan sendiri.

Sebagai pelatih yoyo atau pelatih bisnis saya sangat bangga ketika murid atau klien saya menjadi lebih baik dan berhasil mendapatkan apa yang mereka targetkan. Entah lebih baik dalam cara, omzet meningkat atau apapun tolak ukurnya yang membuat klien tersebut menjadi lebih baik dibanding sebelum dilatih. Rasa senangnya tidak bisa digantikan dengan uang karena saya telah menjadi pelatih yang berhasil.

Recommended Posts
Contact Us

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.